Pekerjaan, Peraturan, Etika dan Hati

Hubungan antara Pelaksanaan pekerjaan, Peraturan Pekerjaan, Etika dan norma kerja serta hati tentu tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya, kalau seoran pekerja tersebut bekerja dengan baik dan profesional. Peraturan kerja telah di tentukan oleh manajemen, Etika Kerja tentu tidak terlepas dari Aturan-aturan yang telah di tetapkan, kalau ada yang menyimpang atau berlawanan dengan aturan yang telah di tetapkan dan di sepakati tentu Hati sebagai kontrol terakhir.

Akan tetapi kalau hati merasa tidak bersalah walau pun pekerjaan yang telah dilakukan menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan dan disepakati…. berarti… Tidak Mematuhi Peraturan kerja, Tidak mempunyai Etika kerja dan Hati telah buta…..

Memasuki lokasi kerja yang tidak lokasi kerja nya, Membuat laporan yang bukan laporan lokasi kerjanya, sementara di lokasi tersebut sudah ada pekerja nya. Apakah itu taat peraturan? mempunyai etika kerja yang baik kah? kemudian… dimana kah letak hati nurani? dengan dalih menanya keadaan dan kondisi lokasi kerja tersebut…

Apa tujuan sebenarnya…? mencari popularitas?, mencari nama dan jasa besar?, mengejar materi? menguasai lokasi kerja sebanyak mungkin? mematikan karakter pekerja dilokasi tersebut?  dan lain sebagainya. Ini merupakan bagian dari tidak taat peraturan kerja, tidak adanya etika kerja dan tidak punya hati.

Dalam suatu organisasi, hal ini biasanya terjadi di level pelaksana. Karena Pelaksana yang mondar-mandir di lapangan/wilayah/lokasi masing-masing. Pihak Pengambil kebijakan hanya mengurus manajemen, yang penting sistem jalan, yang penting laporan ada. Ada masalah….? selesaikan dengan baik dan musyawarah di daerah kerja masing-masing. Trus… Bagaimana kalo yang “si pelanggar peraturan kerja”/ “si tidak BerEtika Kerja” / “Si Buta Hati” Tetap merasa tidak bersalah…? Sementara Laporan “dia” tetap bagus dan terlihat oleh manajemen “sangat manis sekali”. Seperti biasa…. yang penting sistem jalan, laporan lengkap dan masalah tetap selesaikan di daerah kerja masing-masing. Ini celah yang di manfaatkan oleh “si pelanggar peraturan kerja”/ “si tidak BerEtika Kerja” / “Si Buta Hati” tersebut.

Ngomong-ngomong tentang laporan… apa benar laporan telah lengkap? tentu yang bersangkutan dan pihak manajemen yang berkompeten mengurusi laporan lah yang tau. Apakah yang bersangkutan dan pihak mengurusi laporan mempunyai “ikatan batin” / “ikatan emosional” yang kuat, sehingga laporan bisa “damai” saja…? tentu yang bersangkutan dan pihak manajemen yang berkompeten mengurusi laporan lah yang tau.

Dan… Pasti Tuhan lebih tahu… dan pasti melihat.

Marilah kita Taat Peraturan dan Etika Kerja serta tanyakan ke hati nurani… apakah yang dilakukan ini sudah sesuai peraturan dan etika kerja yang telah di tetapkan serta komitmen yang telah di sepakati, untuk kebaikan bersama, tidak untuk kebaikan diri sendiri.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: